Jalaluddin Rakhmat: Kriteria Salat yang Baik sangat Fiqhiyyah

8 04 2012

JIL: Bagaimana kalau ada yang mengatakan itu karena salatnya memang tidak benar. Kalau salatnya sudah benar, semua akan benar?

JALALUDDIN RAKHMAT: Kita memang pernah mendengar hadis bahwa “yang pertama kali diperiksa dari seorang hamba di akhirat kelak adalah salatnya”. Artinya, “Ídza shaluhat, shaluha sâ’iru `amalih, wa idzâ fasadat, fasada sa’iru `amalih,” (kalau beres salatnya, bereslah seluruh amalnya, dan jika rusak, rusaklah seluruh amalnya). Hadis ini bisa diartikan bahwa kalau seseorang menjalankan salat dengan baik, pastilah akhlaknya akan baik. Tapi tadi kita berhadapan dengan pertanyaan yang contradictio in terminis; “salatnya baik, tapi akhlaknya buruk”. Karena itu, ada yang menjawab hal itu tidak mungkin. Sebab kalau salatnya baik, pasti akhlaknya akan baik.
Baca entri selengkapnya »





Jalaluddin Rakhmat: Lebih Bagus yang Akhlaknya baik

7 04 2012

JIL: Kang Jalal, kalau ditanya mana yang lebih baik, muslim yang taat ibadahnya tapi tidak baik akhlaknya, atau yang kurang taat tapi berakhlak baik, mana yang Anda pilih?

JALALUDDIN RAKHMAT: Dulu saya selalu menjawab soal ini dengan cara mengelak. Saya katakan, yang baik ialah yang salat dan akhlaknya bagus. Tapi jawaban itu tidak jujur, karena pilihannya hanya dua: (a) salatnya baik, tapi berakhlak buruk; (b) salatnya buruk, tapi akhlaknya baik. Jadi tidak ada pilihan (c) yang salat dan akhlaknya baik di situ. Kalau jawaban berkelit itu saya berikan dalam ujian, jelas saya tidak lulus, karena memang tidak ada dalam kategori. Baca entri selengkapnya »





Jalaluddin Rakhmat: Manusia Diukur dari Kemuliaan Akhlak

7 04 2012

JIL: Apakah mindset atau paradigma berpikir tertentu juga menjadi soal?

JALALUDDIN RAKHMAT: Ya, betul. Saya pernah cerita tentang dua paradigma atau cara memandang persoalan. Pertama, paradigma akidah. Dalam paradigma ini, hanya ada satu akidah yang benar, dan hanya satu kelompok yang masuk surga. Dengan begitu, hanya ada satu kebenaran. Baik-buruknya seseorang diukur berdasarkan akidah. Padahal, walau banyak orang mengatakan akidah itu ushûl atau sesuatu yang pokok, ia seringkali juga bersifat furû’ atau cabang. Jadi ada furû`-furû` akidah.

Ini sebenarnya penjelasan untuk orang awam karena mereka sering ditipu bahwa akidah adalah ushûl, dan kalau akidah seseorang tidak sama, maka ia akan kafir dan seluruh amal salihnya tidak diterima Tuhan. Orang kemudian diukur dari akidah; kalau akidahnya sama dengan kita, dia akan sama mulianya. Kalau akidahnya tidak sama, dia langsung direndahkan, mungkin disamakan dengan binatang, bahkan dihapuskan dari segala unsur kemanusiaannya. Seluruh hak-hak dia sebagai manusia hilang karena urusan akidah.
Baca entri selengkapnya »





Jalaluddin Rakhmat: Fikih Mengandung Unsur Kesalahan

6 04 2012

JIL: Mengapa umat Islam lebih mementingkan fikih daripada akhlak?

JALALUDDIN RAKHMAT: Saya tidak tahu apakah telah membuat beberapa alasan dalam buku saya soal itu atau tidak. Buku saya itu sebenarnya terbagi dua. Pertama membahas mengapa kita harus mendahulukan akhlak di atas fikih, berujung pada contoh Rasulullah, para sahabat, dan para imam mazhab. Pada bab kedua saya menceritakan târîkhut tasyrî`al-islâmî atau sejarah legislasi hukum Islam dengan al-manhaj al-naqdî. Jadi buku ini mencoba mengkritik ushul fikih juga.

Kita ini selalu merasa yakin bahwa fikih kita yang paling benar dan fikih orang lain keliru. Itu sebenarnya bersumber dari kepercayaan yang berlebih-lebihan akan kebenaran fikih kita. Padahal, fikih itu dalam prosesnya selalu membuka ruang kritik. Dulu, Imam Syafii mengkritik konsep istihsân mazhab Abu Hanifah. Kalau cara dan argumentasi Imam Syafii itu kita gunakan sekarang, dia bisa dipakai untuk mengkritik konsep qiyâsh yang diajarkan Imam Syafii sendiri. Jadi ushul fikih itu selalu membuka peluang kritik.

Apa arti semua itu? Artinya, kita harus tawâdlu` atau rendah hati; bahwa semua fikih mengandung unsur manusia di dalamnya. Karena itu, semua fikih mengandung unsur kesalahan. Anda tentu tahu ucapan seorang ulama: fikih dia benar, tapi mengandung kemungkinan keliru (ra’yî shawâb wa yahtamilul khata’); begitu juga sebaliknya. Saya tidak tahu sejak kapan aliran mushawwibûn itu tersingkir dari masyarakat dan diambil-alih aliran mukhatti’ûn. Tapi tampaknya, aliran yang suka menyalah-nyalahkan orang itu muncul sejak adanya aliran pembaharuan yang juga suka menyalah-nyalahkan.

[cuplikan Wawancara Jalaluddin Rakhmat dengan Burhanuddin dan Muhammad Guntur Romli dari Jaringan Islam Liberal]





Jalaluddin Rakhmat: Mendefinisikan Makna Bid’ah

5 04 2012

JIL: Ada yang bilang, kalau sedang memberantas bid’ah yang dilarang agama, tidak relevan lagi bicara akhlak. Bukankah Nabi menyebut “kullu bid`atin dlalâlah wa kullu dhalâlatin fin nâr”? Jadi ini soal memberantas kemungkaran.

JALALUDDIN RAKHMAT: Pertama kita harus definisikan dulu makna bid’ah, atau bagaimana ia didefinisikan di tengah masyarakat. Pada awalnya, bid’ah bermakna sesuatu yang tidak diperintahkan Rasulullah. Ini merujuk hadis Nabi yang diriwayatkan dalam Kitab Shahîh Bukhari, “Man ahdatsa fî mâ laitsa `alaihi min amrinâ fahuwa radd”. Artinya, semua hal yang tidak kami perintahkan harus ditolak. Jadi, kalau sesuatu itu tidak diperintahkan Rasulullah, itu namanya bid’ah. Saya kira, semua setuju soal itu.

Bahkan, dalam riwayat Nabi yang lain bid’ah itu disebut muhdatsât, sesuatu yang baru, yang tidak pernah ada di zaman Nabi. Hadisnya: “Alâ iyyâkum wa muhdatsâtil umûr”, atau jauhilah olehmu perkara yang baru-baru dalam agama. Sebab, setiap yang muhdats itu bid’ah, dan setiap bid’ah sesat, dan setiap kesesatan akan ke neraka. Dulu ketika masih jadi kader Muhammadiyah, saya hapal sekali hadis itu. Jadi, bid’ah adalah sesuatu yang baru, yang tidak ada dalam perintah Rasulullah.
Baca entri selengkapnya »





Meraih Cinta Ilahi

5 04 2012

Oleh AHMAD SAHIDIN

Jalaluddin Rakhmat dalam buku Meraih Cinta Ilahi, menuturkan bahwa Allah memelihara manusia bukan hanya dengan kebahagiaan atau kegembiraan, tapi juga dengan penderitaan dan kesedihan. Tujuannya adalah agar kita lebih sadar dan berupaya mencapai kesempunaan. Artinya, bahwa dengan musibah sebenarnya kita sedang dituntut untuk peka dan peduli sekaligus berikhtiar melakukan pemeliharaan kehidupan manusia dan alam dengan sebaik-baiknya.
Baca entri selengkapnya »





Jalaluddin Rakhmat: Daripada Menimbulkan Keributan Lebih Baik Mendahulukan Akhlak

4 04 2012

JIL: Kang Jalal, apakah buku-buku fikih betul-betul alpa membahas soal akhlak? Saya kira, buku fikih Imam al-Ghazali, Bidâyatul Hidâyah, juga cenderung membahas soal akhlak.

JALALUDDIN RAKHMAT: Memang, al-Ghazali sendiri misalnya bercerita tentang sirr, atau rahasia dari semua aturan fikih. Misalnya, puasa bukan sekadar menahan makan dan minum, tapi juga mengendalikan diri dari segenap perbuatan yang dilarang Allah. Jadi ada juga unsur akhlaknya. Tapi kalau kita bicara fikih sebagai ilmu, tentu tidak begitu. Bacalah buku fikih apa saja, misalnya Kitâbul Fiqh `alal Madzâhib al-‘Arba`ah. Di situ sudah tidak ada lagi pembicaraan soal akhlak. Dan ingat, Imam al-Ghazali pun berbicara di situ dalam konteks pengajaran tasawuf; mencari rahasia di balik ritual, di balik syariat. Baca entri selengkapnya »